Gereja dan Perubahannya

Oleh Melky Molle

Manusia, gereja dan kehidupannya terus mengalami perubahan. Dan setiap perubahan tentu memiliki pengaruh terhadap manusia itu sendiri baik berpengaruh secara baik (memberi kehidupan) maupun berpengaruh yang kurang baik (tidak memberi kehidupan). Tentu efek samping dari perubahan ini kita tidak bisa menutup mata, pada pengaruh perubahan yang dialami manusia sebagai mahluk yang juga peka terhadap lingkungannya. Karena manusia tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dimana ia berada, termasuk gereja itu sendiri.

Gereja sebagai tempat manusia beraktifitas (organisasi) tentu mengalami perubahan dan gereja tidak akan bisa lari atau mengaburkan diri dari perubahan, jika gereja, manusia dan lingkungannya berada dalam dimensi perubahan itu, maka gereja tidak dapat mengatasi perubahan itu jika perubahan ada dalam kehidupan manusia. Yang harus dipikirkan ialah bagaimana gereja dapat menangkap perubahan itu dan dapat di kelola sebagai bentuk dari tanggungjawabnya sehingga gereja sebagai agen pencerna perubahan, atau pengecap perubahan dapat merasakan bahwa, jika perubahan itu terasa manis maka perlu disyukuri, tetapi jika perubahan itu terasa pahit, maka gereja berkewajiban menetralisir rasa pahit itu supaya komponen dalam gereja dapat mengacap secara baik dan bisa dicerna dengan kesadaran asli, bahwa mereka ada makan saduran perubahan yang sudah di varmentasi oleh gereja sebagai pusat kepercayaan manusia Kristen.

Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) sudah dan sedang mengalami perubahan itu. perubahan itu melahirkan berbagai diskursus para intelektual muda yang sedang berstudy diluar daerah, maupun yang sementara ada didalam daerah (Halmahera). Tentu sebagai manusia yang berpengharapan, dan percaya kepada Yesus sebagai pusat iaman GMIH dan atau sebagai kepala Gereja memiliki harapan, jika diinjikan bisahkah kami berteriak dari seberang lautan ini bahwa, tolonglah wahai para pemikir gereja, yang ada di halmahera (Tobelo) perdebatan soal kebenaran dalam dua kebenaran itu, duduk bersama tanpa ada dikotomi oleh kekuatan lain, atau unsur lain sehingga ada benturan dua kebenaran itu sehingga harapn kami yang ada di rantau dapat menyaksikan dimana kebenaran itu ada.

Sebagai kader GMIH saya merasa miris terhadap keputusan yang dilahirkan di Buli pada SSI BPHS, bahwa terindikasi hasil keputusan ataupun rekomendasi yang dilahirkan itu dimotori oleh emosional kelompok para penggagas rekomendasi dan keputusan yang dibarengi dengan ketukan tiga kali sebagai simbol tri tunggal. Saya hanya mengsangksikan itu jika kebenaran itu dibarengi dengan emosi kelompok penggagas lalu mengetuk tiga kali sebagai simbol Tuhan merestui keputusan yang mengesampingkan satu belah pihak. Tentu ini semua ada manfaatnya jika dilihat dari kacamata pengetahuan lain, tetapi pertanyaan mendasarnya ialah tindakan demikian dengan mengesampingkan saudara-saudara kita yang dituduh sebagai pembangkan memiliki nilai etis-teologis? Jika keputusan ini dibarengi dengan ketukan tiga kali sebagai simbol Tri Tunggal??

Sebenarnya apa itu kebenaran menurut pandangan teolog? Sehingga secepat inikah keputusan diambil tanpa memikirkan berapa nasib jemaat yang belum mengambil sikap di jemaat yang sementara masih bingung dengan problematika yang dihapai oleh gereja kita. Sudahkah kalian pikirkan, apa efek dari keputusan ini? Mungkin pertanyaannya terlalu sederhana sehingga pertanyaan-pertanyaan ini perlu dikesampingkan karena saya masi dalam tahap proses belajar dan masi mudah dalam hal ini. Tetapi perlu diingat bahwa pradaban yang kalian semaikan ini memiliki nilai historis. Dan nilai ini menjadi mimpi baru dalam kehidupan bergereja kita dimasa yang akan datang. Mari kita lihat apa itu kebenaran.

Menurut Lindbeck pemahaman kognitif-proposisional. Menurut pandangan ini, agama secara primer adalah masalah mengetahui (karena itu “kognitif’) kebenaran tentang Tuhan atau yang Ilahi melalui berbagai pernyataan (karena itu “proposisional”) yang jelas dan dapat dimengerti. Proposisi yang tersembunyi di balik perspektif semacam ini adalah bahwa yang benar itu bisa ditangkap dengan pikiran dan kata-kata. Ini merupakan pemahaman yang “pas cocok” dengan bagaimana manusia bisa memahami segala sesuatu (teori kecukupan tentang kebenaran. Terdapat suatu kecocokan yang benar dan jelas antara konsep dalam pikiran anda dengan benda yang anda lihat. Kemudian, konsep itu diterjemahkan ke dalam kata, dan terciptalah kebenaran. Pandangan ini bisa dijelaskan sebagai “apa yang anda lihat, itulah yang anda tahu”. Jadi agama autentik dalam perspektif ini demikian meletakan kata-kata dan dokrin dalam garis lurus.

Sekali anda memperoleh kebenaran yang disusun dalam berbagai pendapat dan kata-kata yang benar, anda bisa menerapkan dalam hidup anda. Oleh karena itu, umat kristiani yang menganut pemahaman seperti ini percaya bahwa Allalah yang memberikan kita Alkitab. Alkitab itu mengandung kata-kata yang benar. Kalau anda memahaminya secara harafiah dan setia, maka anda berada pada jalan yang benar. Jelas bahwa banyak umat kristiani yang menganut Model penggantian akan menyetujui Model kebenaran ini.

Bahwa sebenarnya ini keliru karena pandangan ini mengabaikan begitu banyak saringan yang menentukan apa yang kita tahu. Pandangan ini juga yang mengatakan kita dapat menggambarkan keajaiban dan kekayaan yang mahaluas dari yang Ilahi dalam bahasa manusia. Ini sama saja dengan menyemakan Tuhan dengan berhala.

Didunia ini adakah pengetahuan yang begitu pasti sehingga tidak seorang pun manusia berakal dapat meragukannya? Pertanyaan ini sekilas tampak tidak terlalu sulit, sebenarnya merupakan pertanyaan paling sulit yang dapat ditanyakan. Pada saat kita menyadari adanya halangan dalam usaha mendapatkan jawaban yang jelas dan pasti, kita mulai berpikir karena berpikir adalah usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan hakiki tersebut dengan tidak ceroboh dan dogmatis, seperti yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan dalam bidang organisasi. Kita sering menganggap banyak hal sebagai sesuatu yang pasti, padahal setelah diperiksa dengan cermat ternyata penuh dengan kontradiksi dan hanya dengan pemikiran yang suntuk kita mampu mengetahui apakah hal itu sesungguhnya sehingga kita benar-benar dapat mempercayainya. (Bertrand Russell)

Tentu sebagai manusia kita memiliki keterbatasan diri untuk menanggapi setiap masalah yang diperhadapkan kepada kita. Namun kita juga punya kelebihan untuk menahan diri tanpa tergesa-gesa mencari dan mau menemukan jawabannya setiap kita diperhadapkan dengan masalah yang kita temukan. Oleh karena itu secara struktur manusia dan pada kemampuannya dapt disepakati bahwa Iman dan nalar, sebagai pusat kecerdasan manusia jangan diabaikan. Kalau salah satu diabaikan maka kejenuhan yang akan kita peroleh. Kehendak dan naluri akan menjadi simpulan dalam peletakan jawabannya. Jika kehendak dan naluri sebagai simpulannya, maka otoritas kepemimpinan sebagai acuan melahirkan berbagai jawaban yang telah ditelurkan dihadapan umat.

Jika perpecahan dalam dua kubu adalah jawaban, dimanakah letak iman, sehingga menghasilkan hikmat sedemikian rupa?
Jika pembaharuan adalah perlawanan, dimanakah letak rasio sebagai saringan pengetahuan?
Selamat berpisah semoga perpisahan ini tidak menimbulkan genjatan senjata. Tuhan Yesus menyayangi kita semua bahkan Tuhan Yesus tak jenuh dengan perpecahan ini. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s