Tulisan Pribadi – Melky Molle

GMKI dan PERUBAHANNYA

Oleh Melky Molle
Mantan sekretaris GMKI cabang Tobelo periode 2007/2008

“Untuk mewujudkan panggilan dan pengutusan dalam kehidupan dan perkembangan perguruan tinggi dan mahasiswa, maka pada tanggal 9 Pebruari 1950 Mahasiswa Kristen Indonesia yang melanjutkan usaha Christelijke Studenten Vereeniging op Java, yang berdiri pada tanggal 28 Desember 1932 di Kaliurang untuk mengikut sertakan Gereja dalam pergerakan oikumene dan perjuangan bangsa yang dalam revolusi kemerdekaan Indonesia menjelma menjadi Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia bersama-sama dengan Christelijke Studenten Vereeniging pada waktu itu timbul sebagai persekutuan yang baru bersama-sama berjuang menegakkan dan mempertahankan Republik Indonesia, Negara Proklamasi 17 Agustus 1945, kemudian meleburkan diri dan berhimpun dalam satu bentuk persekutuan dengan nama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia yang bergabung dalam World Student Christian Federation”

Gerakan Mahasiswa Kristen Indoneia (GMKI) yang berdiri pada 9 Februari 1950 dan dipelopori oleh dr. Johanes Laimena atau biasa dipanggil om Jo yang berkebangsaan Maluku tentu patut dikenang sebagi pemikir muda yang melahirkan generasi yang sadar terhadap diri dan karakternya. Seorang om Jo yang berkebangsaan Maluku pada masa itu pasti punya pengalaman yang berbeda dengan kita pada saat ini.

Berada pada keluarga yang sederhana, dan bisa dikatakan sebagai keluarga yang hidup serba terbatas. Dalam keterbatasan itu om Jo memutuskan untuk merantau bersama dengan paman dari ibunya, seorang guru SD. Om Jo bersama pamannya merantau ke Jawa untuk menunaikan tugas dan tanggungjawabnya sabagai guru. Hidup sebagai perantauan tentu memiliki pengalaman yang kompleks terhadap tumpuan harapan dan cita-cita. Om Jo bersama pamannya ketika berada di Jakarta, paman om Jo menyuruh om Jo supaya mau mengikuti pendidikan di Jakarta, ia berstudi dan masuk dalam Fakultas Kedokteran. Dan disitulah om Jo menempuh pergumulannya di Jakarta sampai ia lulus dari Fakultas Kedokteran. (cerita senior GMKI Salatiga bapak Semuel Lusi).

Kutipan di atas merupakan sebagian Pembukaan AD GMKI (Alinea kelima) dan sejarah om Jo pendiri GMKI yang secara singkat menggambarkan (latar belakang) lahirnya atau aspek kesejarahan (historical) GMKI, yang inherent dengan sejarah bangsa. Sejarah tidak bisa dipisahkan dengan aktivitas manusia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sejarah memiliki dua aspek penting, yaitu adanya fakta (objektif) dan interpretasi (subjektif).
Apabila kita mencoba menarik sebuah garis pilar sejarah GMKI, yang telah dipancang pada sekitar enam dasawarsa yang silam, maka akan kelihatan bahwa garis tersebut tidak selalu lurus (tegang) tetapi nampak ada gerak amplitudo (turun-naik), sebagai akibat adanya dinamika yang merupakan ciri dari kehayatan. Sejarah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) adalah rentetan peristiwa yang dialami oleh GMKI. Sejarah itu menggambarkan “suka-duka” perjalanan GMKI dalam mewujudkan tugas dan panggilannya.

Sejarah perlu dipelajari karena 3 (tiga) alasan: pertama, melalui sejarah kita menemukan motivasi dasar dan cita-cita yang mengilhami para pendahulu untuk membentuk GMKI; kedua, melalui sejarah juga kita memperoleh nilai-nilai kejuangan para pendahulu; dan ketiga, dengan mempelajari sejarah, akan terpola pemahaman yang benar tentang GMKI dan perjuangannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan bergereja.

Membentuk organisasi sebesar GMKI tidak mudah bagi seorang om Jo yang berada di tanah Jawa sebagai seorang mahasiswa dari tanah Maluku. Butuh keberanian dan ketekunan bagaimana meyakinkan mahasiswa lain yang tidak sebangsa dengan om Jo bersatu atau bersekutu bersama supaya mereka dapat berbicara dan bergumul soal pergolakan negara dan bangsa yang lagi goyah baik dalam pemerintahan yang baru terbentuk maupun kepentingan diluar dari itu .
Membentuk dan menyatukan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda mesti ada kesadaran dan pergumulan khusus, sehingga mahasiswa yang berbeda ini dapat bersama menyatu dalam gejolak problematika bangsa Indonesia pada masa itu. Om Jo bukan seorang Pendeta, tetapi lingkungan keluarga membentuk dia dalam masa-masa kecil. Ia dididik dengan ajaran-ajaran kekristenan sehingga dari sanalah ia berpijak bersama dengan Imannya itu.

Dari pembentukan organisasi GMKI pada tahun 1950 tanggal 9 Februari, om Jo melihat bangsa ini perlu ada upaya pembenahan karakter generasi bangsa Indonesia, sehingga kelak generasi selanjutnya dapat menjadi generasi yang diandalkan untuk menjadi pemimpin, baik pemimpin di aras gereja secara nasional maupun secara lokal paling tidak di gereja maupun di pemerintahan dapat dipersiapkan untuk menjawab tuntutan zaman ke depan. Karena dari sanalah ia sadar, bahwa sebuah bangsa yang kuat ialah bangsa yang sadar akan dirinya dari setiap perubahan, baik perubahan di tingkat nasional maupun tuntutan-tuntan dari perubhanan itu.
Sedikit menceritakan sejarah tokoh pendiri GMKI untuk memulai tulisan ini supaya penulis sendiri dapat mengenang sosok om Jo sebagai negarawan sejati yang lama disimpan dan tidak diungkap dalam sejarah Bangsa Indonesia dari pemerintahan ke pemerintahan. Walaupun sejarah mencatat, om Jo pernah menjabat sebagai Pejabat sementara Presiden RI sewaktu Presiden Soekarno keluar Negeri untuk menjalani tugas kenegaraan. Indonesia mengakui om Jo sebagai Pahlawan Nasional pada waktu kongres GMKI ke XXXII Tahun 2010 di Makasar oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono.
Sebegitu lama om Jo tidak diakui oleh Negaranya sediri walaupun ia juga banyak membuat perubahan-perubahan besar di Negara Indonesia. Bahkan sampai saat ini, Negara masi mengunakan konsep pikirnya di bagian kesehatan diantaranya PUSKESMAS (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan masih dinikmati oleh masyarakat seluruh Indonesia. Dan GMKI sendiri juga melahirkan PGI sebagai pemersatu gereja-gereja di Indonesia.

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dalam gagasan om Jo ialah menciptakan pemimpin-pemimpin dimasa yang akan datang, maka om Jo mengusung prinsip belajar melayani dari kampus ke kampus sebagai bagian kesaksian mahasiswa Kristen yang tergabung dalam oraganisasi GMKI. Karena pada tahun-tahun itu, banyak problematika bangsa Indonesia dalam masa-masa transisi kepemimpinan yang belum begitu stabil dengan adanya Ideologi Negara yang diusung oleh kelompok-kelompok yang berasal dari kaum cedikiawan partai maupun dari kaum pelajar itu sendiri. Dan dari Gejolak-gejolak itu om Jo hadir dan menyadari bagaimana dengan kaumnya atau mahasiswa Kristen pada saat itu tercerai berai akibat dari pergolakan ideologi Negara.

Perceraian antara mahasiwa-mahasiswa itu, memunculkan ruang yang sangat jauh antara gereja dan mahasiswa Kristen di perguruan tinggi pada masa itu. Maka kehadiran GMKI pada masa itu ialah agar dapat menjawab kebutuhan mahasiswa kristen yang tidak tersentuh oleh pelayanan gereja sama sekali. Maka dari situlah GMKI membentuk kelompok-kelompok doa di sekolah-sekolah tinggi di Jakarta supaya mahasiswa Kristen bisa menyatu dan berbagi bersama dalam kelompok doa itu. Dalam kelompok-kelompok doa itu mereka ber-PA (penelaan Alkitab) dan dari teks yang mereka telaah dan baca, mereka merefleksikan dengan persoalan kebangsaan yang sedang terjadi pada saat itu. Dan sampai saat ini tradisi ber-PA dan berefleksi masih tetap dipertahankan oleh GMKI walaupun ada banyak perubahan-perubahan dalam pembinaan dan pembentukan mahasiswa kristen pada masa sekarang di perguruan tinggi diantaranya ada PDSPK (Pola Dasar Sistem Pendidikan Kader) tahun 1994 dan 2006 yang terus diperbaharui. Sehingga pada Tahun 2012 di Manado tapat pada kongres ke XXXIII BPP GMKI melaporkan ±75 cabang diseluruh Indonesia telah terbentuk.
Melihat perkembangan GMKI kini tentu sebagai kader yang di besarkan di GMKI berharap untuk GMKI itu sendiri agar tetap eksis dan tekun dalam pergumulannya sebagai corong kontrol sosial. GMKI tentu adalah oraganisasi pengkaderan bagi generasi kristen di perguruan tinggi di Indonesia dan patut diberikan apresiasi yang tak terhingga karena bagaimana pun GMKI tetap senantiasa bergumul pada tiga medan gumulnya diantaranya Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat. Dalam gumulan GMKI itu tentu ada banyak problematika dan tantangannya baik secara nasional, maupun secara lokal di cabang-cabang.

Saya sendiri menyadari GMKI ialah tempat belajar bersama sebagai mahasiswa Kristen Indonesia. Saya besar dari organisasi GMKI Cabang Tobelo dan Pernah menjabat Sekertaris GMKI pada Periode 2007-2008 dari Fakultas Teologi GMIH, sekarang UNIERA. Melihat perkembangan GMKI Tobelo yang sementara bergumul dengan persoalan gereja, tentu ada harapan-harapan yang terlintas di kepala saya, apa yang harus dilakukan sebagai organisasi gerakan yang lahir dari Idealisme Injil Yesus Kristus sebagai pusat sentral Iman GMKI. Maka Kepatuhan terhadap panggilannya pada ketiga medan gumul itu, sudah mejadi panggilan imannya dan tanggung jawab moralnya. Jika sudah menjadi panggilannya maka GMKI sudah seharusnya bertindak dengan gerakan penegakan kasih dan keadilan.
Maka GMKI tentu ada dan diharapkan sebagai gerakan yang dapat memediasi polemik itu karena bagian dari perubahan yang harus dicicipi sebaik mungkin agar dapat dipilah dan analisis sebab akibatnya dari polemik itu. GMKI tentu harus bercermin dari om Jo yang belajar dari pengalamannya dan mau berbagi bersama orang-orang yang membutuhkan pelayanan dan mau merefleksikan apa yang ia kerjakan atau apa yang ia lihat. Om Jo menyadari sentuhan pelayanan dari individu ke individu dapat menjadi gerakan yang harus dilakukan karena itulah kebutuhan mereka waktu itu sebagai mahasiswa Kristen yang terabaikan juga karena tuntutan perubahan.

Maka sebagai gerakan, GMKI sudah seharusnya mengetahui akar persoalannya karena biar bagaimana pun, GMKI memiliki banyak senior, baik itu senior yang bergerak di bidang akademisi, Pendeta, Parleman (DPRD) dan bahkan di pemerintahan dll. Ini perlu dilihat sebagai peluang dan harapan untuk dapat didekati sehingga, dari semua elemen GMKI ini dapat disatukan, dan bergumul bersama soal polemik ini, untuk melaksanakan dan mewujudkan apa yang menjadi idealisme GMKI secara nyata di Medan Gereja.

Gereja Masehi Injili di Halmahera juga bagian dari pergumulan GMKI secara Nasional maupun seacara lokal. GMKI cabang Tobelo lahir dari semangat yang sama terhadap tuntutan perubahan manusia Halmahera yang sadar pada panggilannya untuk mengejawantahkan Injil Yesus Kristus sebagai pusat Iman GMIH yang lahir dari derita yang sama, maka polemik GMIH juga sebagai derita yang harus direfleksikan dalam tindakan dan aksi yang diusung oleh GMKI itu sendiri. Jika polemik ini adalah bagian penderitaan bersama maka solusi-solusi yang ditawarkan terhadap persoalan ini harus bernafaskan kasih Kristus, tetapi bukan bernafaskan ego kelompok yang dikedepankan, tanpa memperhatikan nilai-nilai keristenan kita, hanya karena kita telah dipengaruhi oleh gonjang-ganjing kepentingan-kepentingan kekuasaan yang memperkeruh polemik ini tanpa memikirkan nasib umat yang bernaung di GMIH. Oleh karena itu GMKI haruslah sadar posisi dan netral terhadap polemik ini tanpa mengabaikan yang lain. Karena yang lain juga bagian dari GMKI itu sendiri, dan yang membutuhkan pertolongan yang sama. Untuk itu, diharapkan semua elemen GMKI baik anggota biasa, anggota luar biasa, anggota kehormatan, dan anggota penyokong yang masih peduli terhadap keutuhan GMIH haruslah berpikir secara serius mencari jalan keluar supaya mendapatkan solusi yang lahir dari Idealisme Injil Yesus Kristus sebagai ajaran Kepala Gerakan GMKI.

Dari harapan ini, semoga bisa disadari bahwa polemik ini juga bagian dari perubahan yang bisa saja mendatangkan berkat bahkan bisa saja mendatangkan kutukan terhadap kita yang bertikai hanya karena kedudukan dan kekuasaan. Karena itu GMKI sebagai organ gerakan nilai dan corong kontrol sosial, perlu belajar dari sejarah Founding Father GMKI yang telah menggores sejarah di negara ini tanpa mempedulikan dirinya demi menegakan idealisme Injil berdasarkan Kasih Kristus yang rela menderita demi keselamatan manusia. Maka solusi-solusi yang ditawarkan harus mempertimbangkan pada Kasih sebagai pendekatannya. GMKI harus melawan kepada mereka yang karena mementingkan kepentingan sesat mengorbankan keutuhan gereja bahkan mengganggu keharmonisan umat yang selama ini tercipta. “Karena lebih baik GMKI mati di injak oleh penguasa dari pada GMKI mati ditingalkan oleh mahasisawa”.
Semoga ini menjadi bahan refleksi GMKI dalam gumulannya dan pada perubahan-perubahan yang ada dan telah nampak secara nyata dimedannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s