Diskusi 5 – Destrianus Tuwondila

“EGOISME ORANG HALMAHERA DI TANAH RANTAU”

Egoisme berasal dari kata EGO yang menunjukkan kepada diri sendiri. Egoisme sendiri dalam KBBI berarti sebagai sebuah tingkah laku yang menguntungkan diri sendiri. berbicara tentang egoisme orang halmahera ini berarti berbicara tentang tingkah laku yang menguntungkan bagi setiap individu yang berasal dari halmahera. Kehidupan individu yang berasal dari halmahera ini dicerminkan lewat aktivitas mereka dalam kehidupan bermasyarakat diperantauan. Sikap tidak mau mengalah, sombong, bahkan sikap meremehkan orang lain sering tercermin dalam kegiatan sehari-hari.
Egoisme menurut beberapa perantau yang ada dikota Salatiga dibagi menjadi dua yaitu egosisme positif dan egoisme negatif. Selain itu juga sikap egois dibentuk oleh lingkungan, artinya lingkungan turut membantu dalam pembentukan karakter atau perilaku egois. Lingkungan yang dimaksud yaitu lingkungan asal, lingkungan asal yang memiliki pola yang menurut sebagian orang keras turut memberikan pengaruh dalam terbentuknya sikap yang keras.
Sebagian perantau dari halmahera berpikir bahwa egoisme positif yang ada perlu dibangun atau dikembangkan. Sedangkan egoisme yang negatif perlu diminimalisir. Egoisme positif yang diartikan yaitu sikap menunjukkan identitas kesukuan yang tetap melekat walaupun dilingkungan yang berbeda.
Dalam diskusi yg dilakukan oleh para perantau Halmahera berkesimpulan bahwa Egosime yang dimiliki perlu dipertahankan. Egoisme yang dimaksud adalah egoisme positif, dimana egoisme ini menunjukkan akan suatu ciri khas yang dimiliki. Ciri khas ini menunjukkan akan bagaiman kita bertindak dan berpikir seperti orang halmahera, dimana karakter yang “keras” itu perlu diimplementasikan atau diterapkan pada lingkungan atau kondisi yang tepat.
Selain itu, egosime orang halmahera diibaratkan sebagai equalizer dalam musik, dimana ada bagian yang perlu disesuaikan dengan lingkungan tetapi ada bagian yang tidak boleh diubah karena sudah menjadi kekhususan yang menunjukkan “saya halmahera”.
Pada akhirnya dari pandangan dan pemikiran para perantau dapat disimpulkan bahwa karakter yang dimiliki tidak harus dihilangkan atau diganti karena lewat karakter bahkan egoisme yang positif mempertegas indentitas tertentu.

*saya egois, saya halmahera….saya egois, saya Indonesia*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s