Tulisan Pribadi – Melky Molle

Peran Pendidikan

Oleh Melky Molle VS Ane Namotemo

Berawal dari diskusi Facebook di Grup DHU (Diskusi Halmahera Utara) pada Tanggal 25 Maret 2013.

Saudari Ane Namotemo : salah satu dosen perguruan tinggi di Halmahera Utara. Mengutip pernyataan awalnya ”berani bertaruh dengan saya? mahasiswa didikan saya sudah berbuat lebih banyak dari pada anda dalam membangun negeri ini”.

Melky Molle : Saya pikir seorang akademisi tidaklah emosian demikian ya, karena itu akan membengkokan gaya berpikir kita. Jika anda telah berbuat banyak di negri ini, tentu sangat baik dan patut diberikan apresiasi yang tak terhingga kepadamu sebagai sang guru. Sadarilah bahwa kami tidak memiliki kuasa itu karena kami diluar dari sistem spekulasi demikian. Sehingga perlu dianulir secara baik apa yang disampaikan. Bahwa realita yang terjadi dalam benturan idealisme adalah murni pijakannya jelas akademisi dan patut diberikan apresiasi. Jika demikian bahwa mahasiswa anda telah banyak berhasil, apa metode yang anda gunakan sehingga output dari sekolah tinggi anda memiliki mahasiswa yang mampu menghasilkan mahasiswa yang berguna bagi negeri ini, atau konsep pembentukan struktur dalam diri manusia, diantaranya kognitif, afectif, psicomotorik.
Dimanakah yang didahulukan untuk dibentuk dalam diri manusia jika anda adalah seorang akademisi?? sehing kita pun dapat belajar atau paling tidak tahu kelebihan kampus anda dalam pembentukan manusia untuk memanusiakan manusia. Kami bukan orang akademisi tapi butuh informasi dari anda sebagi seorang akademisi yg handal dalam bidangnya.

Ane Namotemo: Kampus saya terbaik dimata karena saya melakukan apa yang saya cintai dan mencintai apa yang saya kerjakan. Pertanyaan tentang aspek pembentukan menarik sekali, bagi saya ketiganya penting, baik kognitif, afektif, psikomotorik, tapi juga perlu didasari dengan pengembangan karakter yang baik. Pengembangan karakter yang baik adalah melalui keteladanan sikap dan penanaman nilai-nilai moral yang unggul secara disipilin (artinya tidak sekedar diajarkan) bahwa manusia menjadi manusia yang sadar kemerdekaan dan kemandiriannya (kutip Paulo Freire).
Pendidikan merupakan proses transformasi yang lama, tidak bisa instan tapi sekali itu mengubah seseorang. Perubahan itu akan jauh lebih permanen jika itu disadari sebaik mungkin dalam setiap pengelolaan sumber potensi yang ada di dalam diri manusia. Karena itu saya setuju kalau ada yang mengatakan pendidikan merubah bangsa. Dan saya lebih cenderung memilih mendidik suatu generasi untuk perubahan daripada membuat revolusi. Revolusi menghasilkan perubahan yang cepat, meluas dan radikal, tetapi tanpa kecapakan dan kehandalan menangani perubahan baru, keadaan bisa menjadi lebih buruk daripada masa sebelum revolusi karena ketidak siapan manusia (bangsa) menangani perubahan tersebut.

Melky Molle : Jika demikian, bahwa dalam ranah pendidikan sangatlah penting untuk pembentukan aspek diri dari kemampuan manusia dari sisi kognitif, afektif dan psikomotorik dan juga pendidikan karakter, maka dengan itu apakah anda setuju dengan berbagai kebijakan pemerintah soal aturan yang dibuat dan ditetapkan bahkan kebijakan pemerintah pusat yang merancang renstra yang menurut saya tidaklah searah atau sepaham dengan pandangan Paulo Freire yang anda kutip bahwa semangat pendidikan adalah membebaskan manusia menjadi manusia yang sadar akan kemerdekaan secara otonom sehingga manusia tidak terkungkung dengan kepentingan penguasa.
karena menurut saya pendidikan juga punya tujuan politik sehingga akan melahirkan pradaban manusia yang memiliki dampak kemandulan rasio bagi manusia itu sendiri. Setujukah anda bahwa dalam konteks Indonesia pendidikan diarahkan pada kepentingan penguasa yang dirancang sedemikian rupa agar output yg dihasilkan adalah manusia mekanik yang siap dipakai dalam dunia usaha, sehingga dalam proses itu peran universitas atau sekolah tinggi menerapkan sistem pembelajaran pun hanya bersifat mencangkoki apa yang seharusnya (kemauan penguasa) tetapi bukan apa yang sepantasnya. Jujur saja menurut saya, kita kehilangan idealisme pendidikan. Karena yang merancang renstra pendidikan kita di Indonesia adalah orang ekonom dan bukan orang pendidikan yang paham betul soal pedidikan.
Sehingga, tidak heran pendidikan diarahkan ke hal-hal ekonomis dan tentu semuanya dinilai dengan uang. Dulunya tidak ada kata profesionalisme dalam dunia pendidikan sekarang sudah ada. apa tujuannya?? yang pasti profesionalisme tetap dituntut keahlian dalam bidang-bidang tertentu dan pada akhirnya uang dan uang menjadi nilai dominan. Jika itu yang menjadi tujuan, maka tidak heran sekolah-sekolah sekarang berlomba bersaing, bahkan bisnis-bisnis dilakukan demi mempertahankan dirinya agar tidak terkilas bahkan bangkrut.
perubahan ini sungguh tragis menurut saya krna itu akan menumbuhkan budaya persaingan, dan menjadikan manusia menjadi individual, prakmatis, materialis sehingga yang dulunya masyarakat kita bisa saling berbagi kebutuhan rempah-rempah masakan garam, cabe dan ikan sekarang tidak terlihat lagi. Yang dulunya budaya babari : bhs Tobelo (Tolong menolong) sekarang sudah tidak ada lagi karena samua dinilai dengan uang .
Ini realitas yg terjadi, bahkan bangunan rumah di tobelo Halmahera Utara yang dulunya tidak ada pagar dan lain-lain, sekarang suda ada tembok beton dan bahkan menjadi trend, sehingga sudah tidak ada komunikasi antara tetangga yang satu dengan tetangga yg lain, dan inilah konteks perubahannya. Jika demikian Menurutmu sebagai kaum akademisi perlukah realitas ini dibiarkan begitu saja, atau perlu ada strategi baru didunia pendidikan agar dapat membendung dinamika perubahan ini, sehingga lebih dekat lagi manusia-manusia halmahera tidak kehilangan identitasnya bahkan tidak hilang dimakan setan modernitas, ataupun globalisasi.
Karena menurut saya pendidikan juga perlu dicurigai, karena disanalah budaya individual dan yang lain-lain terbentuk. Merekalah kaum pendidik yang membuntuk kebudayaan radikal tanpa melalui diskursus antara realita dan teori spekulasi, dan secara tidak langsung pendidikan kita di Indonesia bahkan mengabaikan kemanusiaan. Neoliberalisme sudah merasuki para pemimpin kita, dan sala satu implikasinya ialah dalam dunia pendidikan ideologi kompetisi sebagai basis pendidikan.
Pendidikan menjadi simpul dari perubahan habitus. Dengan mengatakan demikian, kita telah menempatkan pendidikan pada posisi yang sangat mulia bagi pembentukan dan perkembangan kepribadian. Ini menjadi tujuan umum dari apa pun bentuk pendidikan yang diselenggarakan. Pertanyaannya : bagaimana kita bisa mendesain pendidikan kita sehingga yang namanya mutu pendidikan dan perkembangan serta pertumbuhan kepribadian itu sungguh bisa dicapai? ( refleksikan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s