Gereja dan Perubahannya

Oleh Melky Molle

Manusia, gereja dan kehidupannya terus mengalami perubahan. Dan setiap perubahan tentu memiliki pengaruh terhadap manusia itu sendiri baik berpengaruh secara baik (memberi kehidupan) maupun berpengaruh yang kurang baik (tidak memberi kehidupan). Tentu efek samping dari perubahan ini kita tidak bisa menutup mata, pada pengaruh perubahan yang dialami manusia sebagai mahluk yang juga peka terhadap lingkungannya. Karena manusia tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dimana ia berada, termasuk gereja itu sendiri.

Gereja sebagai tempat manusia beraktifitas (organisasi) tentu mengalami perubahan dan gereja tidak akan bisa lari atau mengaburkan diri dari perubahan, jika gereja, manusia dan lingkungannya berada dalam dimensi perubahan itu, maka gereja tidak dapat mengatasi perubahan itu jika perubahan ada dalam kehidupan manusia. Yang harus dipikirkan ialah bagaimana gereja dapat menangkap perubahan itu dan dapat di kelola sebagai bentuk dari tanggungjawabnya sehingga gereja sebagai agen pencerna perubahan, atau pengecap perubahan dapat merasakan bahwa, jika perubahan itu terasa manis maka perlu disyukuri, tetapi jika perubahan itu terasa pahit, maka gereja berkewajiban menetralisir rasa pahit itu supaya komponen dalam gereja dapat mengacap secara baik dan bisa dicerna dengan kesadaran asli, bahwa mereka ada makan saduran perubahan yang sudah di varmentasi oleh gereja sebagai pusat kepercayaan manusia Kristen.

Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) sudah dan sedang mengalami perubahan itu. perubahan itu melahirkan berbagai diskursus para intelektual muda yang sedang berstudy diluar daerah, maupun yang sementara ada didalam daerah (Halmahera). Tentu sebagai manusia yang berpengharapan, dan percaya kepada Yesus sebagai pusat iaman GMIH dan atau sebagai kepala Gereja memiliki harapan, jika diinjikan bisahkah kami berteriak dari seberang lautan ini bahwa, tolonglah wahai para pemikir gereja, yang ada di halmahera (Tobelo) perdebatan soal kebenaran dalam dua kebenaran itu, duduk bersama tanpa ada dikotomi oleh kekuatan lain, atau unsur lain sehingga ada benturan dua kebenaran itu sehingga harapn kami yang ada di rantau dapat menyaksikan dimana kebenaran itu ada.

Sebagai kader GMIH saya merasa miris terhadap keputusan yang dilahirkan di Buli pada SSI BPHS, bahwa terindikasi hasil keputusan ataupun rekomendasi yang dilahirkan itu dimotori oleh emosional kelompok para penggagas rekomendasi dan keputusan yang dibarengi dengan ketukan tiga kali sebagai simbol tri tunggal. Saya hanya mengsangksikan itu jika kebenaran itu dibarengi dengan emosi kelompok penggagas lalu mengetuk tiga kali sebagai simbol Tuhan merestui keputusan yang mengesampingkan satu belah pihak. Tentu ini semua ada manfaatnya jika dilihat dari kacamata pengetahuan lain, tetapi pertanyaan mendasarnya ialah tindakan demikian dengan mengesampingkan saudara-saudara kita yang dituduh sebagai pembangkan memiliki nilai etis-teologis? Jika keputusan ini dibarengi dengan ketukan tiga kali sebagai simbol Tri Tunggal??

Sebenarnya apa itu kebenaran menurut pandangan teolog? Sehingga secepat inikah keputusan diambil tanpa memikirkan berapa nasib jemaat yang belum mengambil sikap di jemaat yang sementara masih bingung dengan problematika yang dihapai oleh gereja kita. Sudahkah kalian pikirkan, apa efek dari keputusan ini? Mungkin pertanyaannya terlalu sederhana sehingga pertanyaan-pertanyaan ini perlu dikesampingkan karena saya masi dalam tahap proses belajar dan masi mudah dalam hal ini. Tetapi perlu diingat bahwa pradaban yang kalian semaikan ini memiliki nilai historis. Dan nilai ini menjadi mimpi baru dalam kehidupan bergereja kita dimasa yang akan datang. Mari kita lihat apa itu kebenaran.

Menurut Lindbeck pemahaman kognitif-proposisional. Menurut pandangan ini, agama secara primer adalah masalah mengetahui (karena itu “kognitif’) kebenaran tentang Tuhan atau yang Ilahi melalui berbagai pernyataan (karena itu “proposisional”) yang jelas dan dapat dimengerti. Proposisi yang tersembunyi di balik perspektif semacam ini adalah bahwa yang benar itu bisa ditangkap dengan pikiran dan kata-kata. Ini merupakan pemahaman yang “pas cocok” dengan bagaimana manusia bisa memahami segala sesuatu (teori kecukupan tentang kebenaran. Terdapat suatu kecocokan yang benar dan jelas antara konsep dalam pikiran anda dengan benda yang anda lihat. Kemudian, konsep itu diterjemahkan ke dalam kata, dan terciptalah kebenaran. Pandangan ini bisa dijelaskan sebagai “apa yang anda lihat, itulah yang anda tahu”. Jadi agama autentik dalam perspektif ini demikian meletakan kata-kata dan dokrin dalam garis lurus.

Sekali anda memperoleh kebenaran yang disusun dalam berbagai pendapat dan kata-kata yang benar, anda bisa menerapkan dalam hidup anda. Oleh karena itu, umat kristiani yang menganut pemahaman seperti ini percaya bahwa Allalah yang memberikan kita Alkitab. Alkitab itu mengandung kata-kata yang benar. Kalau anda memahaminya secara harafiah dan setia, maka anda berada pada jalan yang benar. Jelas bahwa banyak umat kristiani yang menganut Model penggantian akan menyetujui Model kebenaran ini.

Bahwa sebenarnya ini keliru karena pandangan ini mengabaikan begitu banyak saringan yang menentukan apa yang kita tahu. Pandangan ini juga yang mengatakan kita dapat menggambarkan keajaiban dan kekayaan yang mahaluas dari yang Ilahi dalam bahasa manusia. Ini sama saja dengan menyemakan Tuhan dengan berhala.

Didunia ini adakah pengetahuan yang begitu pasti sehingga tidak seorang pun manusia berakal dapat meragukannya? Pertanyaan ini sekilas tampak tidak terlalu sulit, sebenarnya merupakan pertanyaan paling sulit yang dapat ditanyakan. Pada saat kita menyadari adanya halangan dalam usaha mendapatkan jawaban yang jelas dan pasti, kita mulai berpikir karena berpikir adalah usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan hakiki tersebut dengan tidak ceroboh dan dogmatis, seperti yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan dalam bidang organisasi. Kita sering menganggap banyak hal sebagai sesuatu yang pasti, padahal setelah diperiksa dengan cermat ternyata penuh dengan kontradiksi dan hanya dengan pemikiran yang suntuk kita mampu mengetahui apakah hal itu sesungguhnya sehingga kita benar-benar dapat mempercayainya. (Bertrand Russell)

Tentu sebagai manusia kita memiliki keterbatasan diri untuk menanggapi setiap masalah yang diperhadapkan kepada kita. Namun kita juga punya kelebihan untuk menahan diri tanpa tergesa-gesa mencari dan mau menemukan jawabannya setiap kita diperhadapkan dengan masalah yang kita temukan. Oleh karena itu secara struktur manusia dan pada kemampuannya dapt disepakati bahwa Iman dan nalar, sebagai pusat kecerdasan manusia jangan diabaikan. Kalau salah satu diabaikan maka kejenuhan yang akan kita peroleh. Kehendak dan naluri akan menjadi simpulan dalam peletakan jawabannya. Jika kehendak dan naluri sebagai simpulannya, maka otoritas kepemimpinan sebagai acuan melahirkan berbagai jawaban yang telah ditelurkan dihadapan umat.

Jika perpecahan dalam dua kubu adalah jawaban, dimanakah letak iman, sehingga menghasilkan hikmat sedemikian rupa?
Jika pembaharuan adalah perlawanan, dimanakah letak rasio sebagai saringan pengetahuan?
Selamat berpisah semoga perpisahan ini tidak menimbulkan genjatan senjata. Tuhan Yesus menyayangi kita semua bahkan Tuhan Yesus tak jenuh dengan perpecahan ini. Semoga.

Tulisan Hirono – Quo Vadis GMIH

Quo Vadis GMIH
“GMIH ada dimana-mana tetapi tidak dibawah kemana-mana” (Pdt. L. Duan STh)

Gereja Masehi Injili di Halmahera yang berdiri pada Tahun 1949 tapat pada tanggal 6 Juni melalui sidang proto sinode yang dilakukan di Tobelo tentu punya hakekat kemandirian dari hidup berorganisasi yang tumbuh dan berkembang di tanah Halmahera, dan sudah banyak mengalami masalah dari berbagai sisi kehidupan bergereja dan bermasyarakat ( kehidupan sosial) . Gereja adalah sarana religius dari pandangan para tokoh-tokoh agama dan sebagai pangkal moral manusia. Jika gereja adalah pangkal religiusitas manusia, maka gereja seharusnya memiliki daya pikat dan mampu menampakan aroma harmonisasi dalam waktu dan ruangnya baik dalam kehidupan uamat dan masyarakat sekitar.
Marcus Tullius Cicero 106-43 SM. Mengatakan Salus Populi Suprema Lex Esto (Keslamatan atau kesejahtraan warga negara adalah hukum tertinggi). Sadar atau tidak sadar, prinsip inilah yang harus dipegang oleh para pemangku jabatan sinode dan pemerintaah dalam menjawab permasalahan yang timbul di tengah kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Gonjang ganjing yang terjadi di Gereja Masehi Injili di Halmahera perlu dilihat sebgai pergumulan bersama dari sudut pandang interdisipliner pengetahuan sehingga ini bisa dipandang lebih dekat dimana akar persoalannya.
Gereja dalam hal ini Pimpinan sinode hasil sidang Dorume harus menyadari posisi sebagai pengambil keputusan ditingkat kepemimpinan sinode supaya bisa melihat momentum pemilukada adalah ruang politik yang menggerakan keterlibatan semua elemen masyarakat terlebih khusus umatnya. Mengambil posisis sebagai pangkal moralitas umat diharapkan netral pada posisinya dan mampu menyoroti setiap persoalan yang muncul kepermukaan apabila terjadi kekerasan yang berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikis.
Jika gereja dalam hal ini kepemimpinan sinode tidak dapat memposisikan diri sebagai pangkal moral umat yang diharapkan dan mau terlibat dalam ranah politik praktis dengan mendukung sala satu kandidat atau mau menjadi badan pengurus partai maka tentu ini akan menjadi pertanyaan disetiap elemen masyarakat yang ada. Ada apa dengan mereka? Apa alasan mereka mau terlibat secara terang-terangan di momen politik praktis?
Bukankah lembaga keumatan yang dipimpin punya kode etik yang rentan terhadap citra mereka jika terlibat dalam momentum itu bahkan kedudukan mereka disorot oleh karena politik praktis bukan ruang mereka, bahkan tanpa ditulis pun mereka telah mengetahuinya. Maka sangat mengherankan jika mereka dengan tanpa merasa bersalah terlibat secara langsung di arena politik praktis.
Jika ini dilakukan untuk kepentingan diri, maka etika kekristenan kita diabaikan oleh karena perebutan kekuasaan maka dapat dikatakan menduduki kepemimpinan sinode sebagai ajang prestasi untuk memuluskan hasrat kekuasaan yang sama seperti politisi ala machiavelli yang nampak diberbagai daerah bahkan sampai di pusat, bahkan banyak politisi menghalalkan segala cara demi meraih kedudukan tanpa merasa bersalah. Bahkan ini juga terjadi dalam agenda-agenda sidang sinode dari priode ke priode di Gereja Masehi Injili di Halmahera, memilih ketua sinode pun harus dilakukan lobi-lobi.

Pemilihan Gubernur Maluku utara telah menunjukan betapa ironis kehidupan berdemokrasi kita. Fakta menunjukan ada banyak kenjanggalan dalam proses Pemilukada di Maluku utara pada 1 Juli 2013 yang lalu. Kenjanggalan yang membingungkan masyarakat secara nyata ialah banyaknya janji-janji kejujuran, dan banyaknya iklan yang menunjukan keiklasan, dengan mendengungkan perdamaian mengungkap kepalsuan tanpa basa –basi tanpa ragu bahkan tanpa dosa. Money Politik adalah hasil kejanggalan itu.
Realita ini berimbas pada kehidupan keseharian masyarakat dan membekas dalam pikiran orang-orang yang terlibat dari proses pemilihan Gubernur di Maluku Utara dan sekitarnya. Intrumen perebutan kekuasaan seperti yang dipraktekan di Pemilukada Maluku Utara ialah hal yang tidak diharapkan oleh masyarakat tetapi itu dipraktekan demi kekuasaan yang dimaksudkan. Money politik terjadi dengan terang-terangan yang disorot oleh banyak media bahkan oleh lemaga-lembaga penelitian. Hal ini tidak menjadi asing karena telah berulang-ulang dipraktekan oleh kandidat-kandidat yang bertarung dari setiap pemilukada di Maluku Utara.
Jadi budaya money politik seperti ini bukan ciri khas budaya yang berkembang di Maluku Utara. Tetapi ini dipaksakan oleh mereka yang berkepentingan tanpa memikirkan dampak dari budaya money politik yang disemaikan oleh mereka yang hanya memikirkan diri sendiri dan kekuasaan maka nampak melahirkan kesenjangan antara kelompok-kelompok masyarakat, tanpa disadari juga berimbas pada institusi keagamaan.
Realita ini harus diperhatikan oleh Pemerintah yang memiliki tugas dan kewajiban dalam menjawab tuntutan masyarakat guna terjadi kestabilan dalam masyarakat. Ini merupakan amanat langsung dari UUD 1945 sebagai ground norm negara. Berlandaskan asas-asas umum pemerintahan yang baik ((AAUPB), pemerintah dituntut untuk mampu bekerja aktif melalui organ-organnya agar masalah yang terjadi ditengah masyarakat tidak membawa akibat pada kestabilan daerah. Inilah yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menjawab tantangan yang terjadi di halmahera utara. Masalah yang telah dihasilkan oleh pemilihan gubernur ini harus mampu dicerna sebaik mungkin agar tidak berimbas pada segi-segi kehidupan masyarakat termasuk dilembaga-lembaga keumatan.
Pemerintah seharusnya tidak melakukan intervensi terhadap permasalahan GMIH, selama GMIH masih mampu menanggulanginya agar semua berjalan sesuai koridor masing-masing. Ini bukan berarti bahwa pemerintah tidak punya wewenang terhadap GMIH, pemerintah memiliki wewenang untuk mengintervensi GMIH apabila ada permintaan dari GMIH bahwa GMIH menyatakan tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Dan intervensi dari pemerintah seharusnya memiliki alasan logis agar masalah yang terjadi tidak berdampak pada keamanan dan ketertiban masyarakat yang menjadi tanggungjawab pemerintah setempat.
Sidang Sinode Istimewa (SSI) telah membawa polemik dalam permasalahan GMIH. Polemik tersebut berkaitan erat dengan keabsahan dari Sidang Sinode Istmewa itu. Dalam Pasal 32 Point C AD/ART Sinode, tertulis : “Sidang Sinode Istimewa dilakukan apabila terjadi kekosongan kepemimpinan di dalam Badan Pekerja Harian Sinode”. Selain itu ada juga tertulis “Yang dimaksd dengan kekosongan adalah : meninggal dunia dan mengundurkan diri”. Berdasarkan AD/ART sinode tersebut, maka keabsahan dari Sidang Sinode Istimewa harus di pertanyakan kembali. Apakah sah menurut AD/ART Sinode? Ataukah ada unsur lain yang melahirkan Sidang Sinode Istimewa.
AD/ART sinode merupakan “Norma Dasar” Sinode yang menjadi dasar konstitusi Sinode. Ini tentunya membawa konsekuensi yuridis, apabila terjadi pelanggaran terhadap AD/ART sinode, terutama dalam Pasal 32 point c, maka ini sama dengan pelanggaran terhadap dasar konstitusi sinode sehingga SSI yang dilakukan tidak konstitusional dan bisa dikatakan sebagai penghianatan terhadap konstitusi Sinode yang adalah keputusan bersama dari semua utusan jemaat yang diwakilkan pada korwil-korwil (Kordinator Wilayah) sesuai dengan mekanisme organisasi gereja GMIH pada sidang sinode di Loloda desa Dorume.
Maka baik BPHS hasil sidang sinode Dorume dan BPHS versi SSI haruslah sadar posisi terhadap amanat konstitusi GMIH yang dihasilkan secara legal di Dorume pada tahun 2012. Dan disadari bahwa SSI bukanlah jalan keluar yang diharapkan. Harapan warga jemaat tidaklah sama dengan harapan segelintir orang yang mengatasnamakan utusan jemaat yang dikumandangkan pada saat mereka melaksanakan SSI yang inkonstitusional, dan bukan solusi.
Jika BPHS Sidang sinode Dorume telah menyadari semua polemik ini berasal maka sudah saatnya memohon ampunan terhadap kesalahan yang dibuat tanpa mempedulikan etika-etika kepemimpinan kekristenan maka mengundurkan diri adalah sikap etis dan patut dilakukan.
Pemerintah sebagai abdi masyarakat, seharusnya mengabdikan diri pada masyarakat tanpa harus mencampuri urusan-urusan keagamaan mereka dengan melakukan intervensi terhadap pihak-pihak terkait pada persoalan ini, sehingga tidak muncul diskriminasi pada pihak lain. Jika persoalan ini di intervensi oleh pemerintah setempat maka rekonsiliasi antar kedua belah pihak yang berpolemik tidak akan tercapai malah menambah persoalan ini berkepanjangan, bahkan hubungan mereka ibarat hubungan genjatan senjata.

Tulisan Pribadi – Melky Molle

GMKI dan PERUBAHANNYA

Oleh Melky Molle
Mantan sekretaris GMKI cabang Tobelo periode 2007/2008

“Untuk mewujudkan panggilan dan pengutusan dalam kehidupan dan perkembangan perguruan tinggi dan mahasiswa, maka pada tanggal 9 Pebruari 1950 Mahasiswa Kristen Indonesia yang melanjutkan usaha Christelijke Studenten Vereeniging op Java, yang berdiri pada tanggal 28 Desember 1932 di Kaliurang untuk mengikut sertakan Gereja dalam pergerakan oikumene dan perjuangan bangsa yang dalam revolusi kemerdekaan Indonesia menjelma menjadi Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia bersama-sama dengan Christelijke Studenten Vereeniging pada waktu itu timbul sebagai persekutuan yang baru bersama-sama berjuang menegakkan dan mempertahankan Republik Indonesia, Negara Proklamasi 17 Agustus 1945, kemudian meleburkan diri dan berhimpun dalam satu bentuk persekutuan dengan nama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia yang bergabung dalam World Student Christian Federation”

Gerakan Mahasiswa Kristen Indoneia (GMKI) yang berdiri pada 9 Februari 1950 dan dipelopori oleh dr. Johanes Laimena atau biasa dipanggil om Jo yang berkebangsaan Maluku tentu patut dikenang sebagi pemikir muda yang melahirkan generasi yang sadar terhadap diri dan karakternya. Seorang om Jo yang berkebangsaan Maluku pada masa itu pasti punya pengalaman yang berbeda dengan kita pada saat ini.

Berada pada keluarga yang sederhana, dan bisa dikatakan sebagai keluarga yang hidup serba terbatas. Dalam keterbatasan itu om Jo memutuskan untuk merantau bersama dengan paman dari ibunya, seorang guru SD. Om Jo bersama pamannya merantau ke Jawa untuk menunaikan tugas dan tanggungjawabnya sabagai guru. Hidup sebagai perantauan tentu memiliki pengalaman yang kompleks terhadap tumpuan harapan dan cita-cita. Om Jo bersama pamannya ketika berada di Jakarta, paman om Jo menyuruh om Jo supaya mau mengikuti pendidikan di Jakarta, ia berstudi dan masuk dalam Fakultas Kedokteran. Dan disitulah om Jo menempuh pergumulannya di Jakarta sampai ia lulus dari Fakultas Kedokteran. (cerita senior GMKI Salatiga bapak Semuel Lusi).

Kutipan di atas merupakan sebagian Pembukaan AD GMKI (Alinea kelima) dan sejarah om Jo pendiri GMKI yang secara singkat menggambarkan (latar belakang) lahirnya atau aspek kesejarahan (historical) GMKI, yang inherent dengan sejarah bangsa. Sejarah tidak bisa dipisahkan dengan aktivitas manusia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sejarah memiliki dua aspek penting, yaitu adanya fakta (objektif) dan interpretasi (subjektif).
Apabila kita mencoba menarik sebuah garis pilar sejarah GMKI, yang telah dipancang pada sekitar enam dasawarsa yang silam, maka akan kelihatan bahwa garis tersebut tidak selalu lurus (tegang) tetapi nampak ada gerak amplitudo (turun-naik), sebagai akibat adanya dinamika yang merupakan ciri dari kehayatan. Sejarah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) adalah rentetan peristiwa yang dialami oleh GMKI. Sejarah itu menggambarkan “suka-duka” perjalanan GMKI dalam mewujudkan tugas dan panggilannya.

Sejarah perlu dipelajari karena 3 (tiga) alasan: pertama, melalui sejarah kita menemukan motivasi dasar dan cita-cita yang mengilhami para pendahulu untuk membentuk GMKI; kedua, melalui sejarah juga kita memperoleh nilai-nilai kejuangan para pendahulu; dan ketiga, dengan mempelajari sejarah, akan terpola pemahaman yang benar tentang GMKI dan perjuangannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan bergereja.

Membentuk organisasi sebesar GMKI tidak mudah bagi seorang om Jo yang berada di tanah Jawa sebagai seorang mahasiswa dari tanah Maluku. Butuh keberanian dan ketekunan bagaimana meyakinkan mahasiswa lain yang tidak sebangsa dengan om Jo bersatu atau bersekutu bersama supaya mereka dapat berbicara dan bergumul soal pergolakan negara dan bangsa yang lagi goyah baik dalam pemerintahan yang baru terbentuk maupun kepentingan diluar dari itu .
Membentuk dan menyatukan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda mesti ada kesadaran dan pergumulan khusus, sehingga mahasiswa yang berbeda ini dapat bersama menyatu dalam gejolak problematika bangsa Indonesia pada masa itu. Om Jo bukan seorang Pendeta, tetapi lingkungan keluarga membentuk dia dalam masa-masa kecil. Ia dididik dengan ajaran-ajaran kekristenan sehingga dari sanalah ia berpijak bersama dengan Imannya itu.

Dari pembentukan organisasi GMKI pada tahun 1950 tanggal 9 Februari, om Jo melihat bangsa ini perlu ada upaya pembenahan karakter generasi bangsa Indonesia, sehingga kelak generasi selanjutnya dapat menjadi generasi yang diandalkan untuk menjadi pemimpin, baik pemimpin di aras gereja secara nasional maupun secara lokal paling tidak di gereja maupun di pemerintahan dapat dipersiapkan untuk menjawab tuntutan zaman ke depan. Karena dari sanalah ia sadar, bahwa sebuah bangsa yang kuat ialah bangsa yang sadar akan dirinya dari setiap perubahan, baik perubahan di tingkat nasional maupun tuntutan-tuntan dari perubhanan itu.
Sedikit menceritakan sejarah tokoh pendiri GMKI untuk memulai tulisan ini supaya penulis sendiri dapat mengenang sosok om Jo sebagai negarawan sejati yang lama disimpan dan tidak diungkap dalam sejarah Bangsa Indonesia dari pemerintahan ke pemerintahan. Walaupun sejarah mencatat, om Jo pernah menjabat sebagai Pejabat sementara Presiden RI sewaktu Presiden Soekarno keluar Negeri untuk menjalani tugas kenegaraan. Indonesia mengakui om Jo sebagai Pahlawan Nasional pada waktu kongres GMKI ke XXXII Tahun 2010 di Makasar oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono.
Sebegitu lama om Jo tidak diakui oleh Negaranya sediri walaupun ia juga banyak membuat perubahan-perubahan besar di Negara Indonesia. Bahkan sampai saat ini, Negara masi mengunakan konsep pikirnya di bagian kesehatan diantaranya PUSKESMAS (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan masih dinikmati oleh masyarakat seluruh Indonesia. Dan GMKI sendiri juga melahirkan PGI sebagai pemersatu gereja-gereja di Indonesia.

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dalam gagasan om Jo ialah menciptakan pemimpin-pemimpin dimasa yang akan datang, maka om Jo mengusung prinsip belajar melayani dari kampus ke kampus sebagai bagian kesaksian mahasiswa Kristen yang tergabung dalam oraganisasi GMKI. Karena pada tahun-tahun itu, banyak problematika bangsa Indonesia dalam masa-masa transisi kepemimpinan yang belum begitu stabil dengan adanya Ideologi Negara yang diusung oleh kelompok-kelompok yang berasal dari kaum cedikiawan partai maupun dari kaum pelajar itu sendiri. Dan dari Gejolak-gejolak itu om Jo hadir dan menyadari bagaimana dengan kaumnya atau mahasiswa Kristen pada saat itu tercerai berai akibat dari pergolakan ideologi Negara.

Perceraian antara mahasiwa-mahasiswa itu, memunculkan ruang yang sangat jauh antara gereja dan mahasiswa Kristen di perguruan tinggi pada masa itu. Maka kehadiran GMKI pada masa itu ialah agar dapat menjawab kebutuhan mahasiswa kristen yang tidak tersentuh oleh pelayanan gereja sama sekali. Maka dari situlah GMKI membentuk kelompok-kelompok doa di sekolah-sekolah tinggi di Jakarta supaya mahasiswa Kristen bisa menyatu dan berbagi bersama dalam kelompok doa itu. Dalam kelompok-kelompok doa itu mereka ber-PA (penelaan Alkitab) dan dari teks yang mereka telaah dan baca, mereka merefleksikan dengan persoalan kebangsaan yang sedang terjadi pada saat itu. Dan sampai saat ini tradisi ber-PA dan berefleksi masih tetap dipertahankan oleh GMKI walaupun ada banyak perubahan-perubahan dalam pembinaan dan pembentukan mahasiswa kristen pada masa sekarang di perguruan tinggi diantaranya ada PDSPK (Pola Dasar Sistem Pendidikan Kader) tahun 1994 dan 2006 yang terus diperbaharui. Sehingga pada Tahun 2012 di Manado tapat pada kongres ke XXXIII BPP GMKI melaporkan ±75 cabang diseluruh Indonesia telah terbentuk.
Melihat perkembangan GMKI kini tentu sebagai kader yang di besarkan di GMKI berharap untuk GMKI itu sendiri agar tetap eksis dan tekun dalam pergumulannya sebagai corong kontrol sosial. GMKI tentu adalah oraganisasi pengkaderan bagi generasi kristen di perguruan tinggi di Indonesia dan patut diberikan apresiasi yang tak terhingga karena bagaimana pun GMKI tetap senantiasa bergumul pada tiga medan gumulnya diantaranya Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat. Dalam gumulan GMKI itu tentu ada banyak problematika dan tantangannya baik secara nasional, maupun secara lokal di cabang-cabang.

Saya sendiri menyadari GMKI ialah tempat belajar bersama sebagai mahasiswa Kristen Indonesia. Saya besar dari organisasi GMKI Cabang Tobelo dan Pernah menjabat Sekertaris GMKI pada Periode 2007-2008 dari Fakultas Teologi GMIH, sekarang UNIERA. Melihat perkembangan GMKI Tobelo yang sementara bergumul dengan persoalan gereja, tentu ada harapan-harapan yang terlintas di kepala saya, apa yang harus dilakukan sebagai organisasi gerakan yang lahir dari Idealisme Injil Yesus Kristus sebagai pusat sentral Iman GMKI. Maka Kepatuhan terhadap panggilannya pada ketiga medan gumul itu, sudah mejadi panggilan imannya dan tanggung jawab moralnya. Jika sudah menjadi panggilannya maka GMKI sudah seharusnya bertindak dengan gerakan penegakan kasih dan keadilan.
Maka GMKI tentu ada dan diharapkan sebagai gerakan yang dapat memediasi polemik itu karena bagian dari perubahan yang harus dicicipi sebaik mungkin agar dapat dipilah dan analisis sebab akibatnya dari polemik itu. GMKI tentu harus bercermin dari om Jo yang belajar dari pengalamannya dan mau berbagi bersama orang-orang yang membutuhkan pelayanan dan mau merefleksikan apa yang ia kerjakan atau apa yang ia lihat. Om Jo menyadari sentuhan pelayanan dari individu ke individu dapat menjadi gerakan yang harus dilakukan karena itulah kebutuhan mereka waktu itu sebagai mahasiswa Kristen yang terabaikan juga karena tuntutan perubahan.

Maka sebagai gerakan, GMKI sudah seharusnya mengetahui akar persoalannya karena biar bagaimana pun, GMKI memiliki banyak senior, baik itu senior yang bergerak di bidang akademisi, Pendeta, Parleman (DPRD) dan bahkan di pemerintahan dll. Ini perlu dilihat sebagai peluang dan harapan untuk dapat didekati sehingga, dari semua elemen GMKI ini dapat disatukan, dan bergumul bersama soal polemik ini, untuk melaksanakan dan mewujudkan apa yang menjadi idealisme GMKI secara nyata di Medan Gereja.

Gereja Masehi Injili di Halmahera juga bagian dari pergumulan GMKI secara Nasional maupun seacara lokal. GMKI cabang Tobelo lahir dari semangat yang sama terhadap tuntutan perubahan manusia Halmahera yang sadar pada panggilannya untuk mengejawantahkan Injil Yesus Kristus sebagai pusat Iman GMIH yang lahir dari derita yang sama, maka polemik GMIH juga sebagai derita yang harus direfleksikan dalam tindakan dan aksi yang diusung oleh GMKI itu sendiri. Jika polemik ini adalah bagian penderitaan bersama maka solusi-solusi yang ditawarkan terhadap persoalan ini harus bernafaskan kasih Kristus, tetapi bukan bernafaskan ego kelompok yang dikedepankan, tanpa memperhatikan nilai-nilai keristenan kita, hanya karena kita telah dipengaruhi oleh gonjang-ganjing kepentingan-kepentingan kekuasaan yang memperkeruh polemik ini tanpa memikirkan nasib umat yang bernaung di GMIH. Oleh karena itu GMKI haruslah sadar posisi dan netral terhadap polemik ini tanpa mengabaikan yang lain. Karena yang lain juga bagian dari GMKI itu sendiri, dan yang membutuhkan pertolongan yang sama. Untuk itu, diharapkan semua elemen GMKI baik anggota biasa, anggota luar biasa, anggota kehormatan, dan anggota penyokong yang masih peduli terhadap keutuhan GMIH haruslah berpikir secara serius mencari jalan keluar supaya mendapatkan solusi yang lahir dari Idealisme Injil Yesus Kristus sebagai ajaran Kepala Gerakan GMKI.

Dari harapan ini, semoga bisa disadari bahwa polemik ini juga bagian dari perubahan yang bisa saja mendatangkan berkat bahkan bisa saja mendatangkan kutukan terhadap kita yang bertikai hanya karena kedudukan dan kekuasaan. Karena itu GMKI sebagai organ gerakan nilai dan corong kontrol sosial, perlu belajar dari sejarah Founding Father GMKI yang telah menggores sejarah di negara ini tanpa mempedulikan dirinya demi menegakan idealisme Injil berdasarkan Kasih Kristus yang rela menderita demi keselamatan manusia. Maka solusi-solusi yang ditawarkan harus mempertimbangkan pada Kasih sebagai pendekatannya. GMKI harus melawan kepada mereka yang karena mementingkan kepentingan sesat mengorbankan keutuhan gereja bahkan mengganggu keharmonisan umat yang selama ini tercipta. “Karena lebih baik GMKI mati di injak oleh penguasa dari pada GMKI mati ditingalkan oleh mahasisawa”.
Semoga ini menjadi bahan refleksi GMKI dalam gumulannya dan pada perubahan-perubahan yang ada dan telah nampak secara nyata dimedannya.

Berita Hirono 6 Oktober 2013

Sabtu tanggal 6 Oktober 2013 dikost-kostan Vitra kembali kelompok diskusi Hirono Salatiga melaksanakan kegiatan diskusi, dengan topik “Pandangan Masyarakat Halmahera Utara Terhadap Pembangunan Politik” yang dibawakan oleh saudara Engelbert Samloy, mahasiswa UKSW Fakultas Sosiologi. Diskusi tersebut didasarkan pada studi sosiologis yang dilakukan di kecamatan Tobelo, khususnya pada masyarakat di desa Wari.

Mahasiswa Maluku Utara yang tergabung di kelompok diskusi Hirono Halmahera saling berbagi dalam diskusi yang di bawakan oleh Engelbert Samloy. Menarik untuk disimak dari komentar saudara-saudara yang tergabung di kelompok diskusi Hirono karena mengkaji dari berbagai bidang ilmu masing-masing sehigga menambah wawasan dalam melihat masalah praktis di lingkungan sosial.

Dalam diskusi tersebut diikuti juga dua orang senior yaitu senior Willy Kuat dan senior Toni Baura yang sudah terjun dalam dunia kerja terlebih khusus dalam dunia birokrasi. Ini menambah khasanah berpikir kelompok diskusi dalam membandingkan realita yang terjadi dalam dunia birokrasi dengan teori-teori yang didapatkan dalam dunia perkuliahan sehingga melahirkan ide-ide yang bisa dipakai sebagai pegangan ketika terjun dalam dunia praktis birokrasi maupun masyarakat.

Berita Hirono 22 September 2013

Hari Minggu tanggal 22 September 2013 di Kemiri I (satu) Salatiga dirumah senior Bapak Yus diadakan pertemuan semua Mahasiswa Maluku Utara yang tergabung dalam Kemamora (Kerukunan Masyarakat Moloku Kie raha) bertemu dan mendiskusikan problem polemik GMIH dan dalam pertemuan itu dihadiri oleh senior-senior Kemamora di antaranya, bapak Jhon Lahade, Toni Baura, Willy Kuat, dan semua anggota Kemamora. Dalam perbincangan itu, bernuansa kekeluargaan yang dimoderatori oleh saudara Melky Molle yang mendampingi bapak Jhon L. Mengungkap problem GMIH dari sorotan sejarah dan realita bergereja orang halmahera.

Menurut bapak Jhon L. Para pemimpin seharusnya sadar akan keberadaan gereja GMIH sebagai wadah dan aset daerah yang harus dijaga, sebagai pangkal berkat bagi orang-orang halmahera yang turut melahirkan para pemimpin Maluku Utara. Dimana GMIH sudah memberi sumbangsih terhadap daerah dalam membanggun pradaban manusia Maluku utara dengan adanya sekolah-sekolah GMIH yang banyak menciptakan generasi-generasi yang berkualitas demi Maluku Utara yang ada dan sedang berkembang.

Harapan beliau, semua mahasiswa harus turut mendoakan GMIH dalam dualisme kepemimpinannya supaya mereka-mereka yang berpolemik ini dapat sadar, dan dapat mengembalikan GMIH yang utuh seperti yang diharapkan oleh umat Tuhan di Halmahera.

Berita Hirono 20 September 2013

Hari Jumat tanggal 20 September 2013 di kost-kostan Vitra Salatiga Kelompok diskusi Hirono kembali melaksanakan aktifitas rutinnya, yaitu diskusi dengan topik “Perilaku Organisasi” yang dibawakan oleh Senior Kemamora bapak Stevi Hangewa, Dosen TI di UKSW.

Dalam diskusi itu, terjadi percakapan serius antara bapak Stevi dan mahasiswa asal halmahera yang tergabung dalam diskusi Hirono. Dari diskusi yang berkembang, bapak Stevi sengaja memberi tema Perilaku Organisasi sebagi sorotkan utama ke konteks pergumulan polemik gereja GMIH yang lagi hangat diperbincangkan di kalangan jemaat dan para pimpinan gereja di Halmahera dengan bermaksud supaya, problem GMIH harus diangkat menjadi wacana untuk dicakapkan dalam kalangan akademisi yang sedang berstudi di Salatiga.

Dengan demikian diskusi Hirono menjadi wadah yang harus diberikan apresiasi positif, karena dari diskusi Hironolah akan melahirkan gagasan-gagasan demi menjawab problem yang ada, ditengah-tengah perubahan yang lagi dihadapi oleh jemaat gereja dan terlebih khusus masyarakat halmahera itu sendiri.

Berita Hirono 14 Septeber 2013

Sabtu tanggal 14 September 2013 dikost-kostan Jetis kembali kelompok diskusi Hirono Salatiga melaksanakan kegiatan diskusi, dengan topik “Apatisme Masyarakat Terhadap Politik” yang dibawakan oleh saudara Sukrisno Utumu mahasiswa UKSW Fakultas Sosiologi.

Mahasiswa Maluku Utara yang tergabung di kelompok diskusi Hirono Halmahera saling berbagi dalam diskusi yang dibawakan oleh Sukrisno Utumu. Menarik untuk disimak dari komentar saudara-saudara yang tergabung di kelompok diskusi Hirono karena mengkaji dari berbagai bidang ilmu masing-masing sehingga menambah wawasan dalam melihat masalah praktis di lingkungan sosial.

Dalam diskusi tersebut diikuti dengan jamuan yang diberikan oleh saudara Sukrisno Utumu. Ini menambah spirit anggota kelompok dalam berdiskusi sehingga melahirkan ide-ide yang bisa dipakai sebagai pegangan ketika terjuan dalam dunia praktis masyarakat.